Kecemasan

Tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan selama 15 jam perjalanan dengan Kereta Api. Tidur, bolak-balik toilet, membaca buku saku berjudul 24/365 NARA dan sesekali mengobrol dengan teman sebangku. Beruntungnya saya punya teman ngobrol seorang mahasiswi jurusan psikologi semester 5. Jadilah seru karena topik kita tentang manusia dan segala pemikirannya sebagai objek.

Lalu saya pikir kenapa tidak habiskan waktu untuk menulis juga. Saya ingin melanjutkan cerita tentang episodic paroxysmal anxiety yang saya alami. Ini bukan cerita sedih, karena memang tidak ditulis saat sedih dan bukan untuk mengekspresikan kesedihan. Hari itu tanggal 20 Juni 2018 untuk pertama kalinya saya mengungkapkan kecemasan yang sama sekali saya tidak tahu sumbernya, ke psikiater. Saya bilang saya merasakan sesak napas dan jantung berdebar setiap kali merasa tidak nyaman disertai rasa akan takut sesuatu. Perasaan itu sudah berlangsung selama berminggu minggu setelah masuk UGD (baca).

Dokter terus menggali-gali rasa cemas apa yang saya alami dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Saya bilang saya tidak tahu persis, kecuali kecemasan akan datangnya serangan panik itu kembali terjadi. Pertemuan pertama saya dengan psikiater membuahkan saya harus mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan psikotropik untuk membantu menghilangkan gejala yang menyerang saya.

Saya melakukan kontrol berikutnya setelah dua minggu dengan kondisi yang jauh lebih baik. Begitu pula dua minggu berikutnya dengan menerapkan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), caranya dengan menuliskan daftar kecemasan, skor, dan bagaimana cara saya mengatasinya. Hingga saat ini kontrolnya menjadi lebih tidak sering, yaitu sebulan sekali, karena kata dokter penerapan terapi CBT saya berjalan dengan progress yang cepat.

Ada banyak hal yang saya realize dari membuat daftar CBT. Tentang kelemahan dan kekuatan diri saya. Tentang the way of thinking yang perlu diluruskan. Tidak ada ketentuan yang baku tentang bagaimana manusia harus membuat keputusan. Karena manusia dengan setiap neurotransmitter yang diciptakanNya adalah keunikan tersendiri. But if you realize something went wrong in your head, heart and act, jangan takut untuk mencari bantuan, untuk berdiskusi dengan orang lain tanpa judgemental, dan jujur pada diri sendiri.

Salah satu bentuk healing yang saya sedang terapkan adalah keterbukaan. Beberapa kali saya tidak sadar tentang dengan siapa saya tidak jujur mengenai perasaan yang saya sembunyikan. Sampai akhirnya tertanam dalam alam bawah sadar saya melalui berbagai macam mimpi.
Saya memutuskan untuk menerjemahkannya dengan bercerita, memulai melakukan pendekatan dan berbicara dengan jujur dan terbuka. Ada banyak reaksi yang saya dapat. Ketegangan, reaksi pembenaran, hingga reaksi positif yang tidak saya sangka. Dokter bilang, kita tidak perlu memikirkan ekspektasi dan respect yang sama setelah mengungkapkan keterbukaan, sehingga kita sudah memprepare diri kita untuk siap kecewa, sedih dan senang dengan reaksi yang kita terima.

Apa kamu punya pengalaman yang sama dengan saya ? Saya punya rekomendasi beberapa situs yang bisa membantu kita dalam self-development seperti :
theunlearn.com
pijarpsikologi.com

atau kamu punya rekomendasi untuk saya juga ?

Oh iya saya juga suka sekali melihat berbagai macam foto foto bagus di unsplash.com, saya sering menuliskan kata kunci forest di kolom pencarian. Setiap kali saya melihat foto foto yang dibagikan oleh banyak fotografer di platform itu, i feel hygge. By the way sekarang saya senang untuk disebut sebagai hygge seeker 🙂

*Ditulis di Kereta Api Majapahit
19 Agustus 2018

Leave a Reply