A person’s a person, no matter how small

A person’s a person, no matter how small
-Dr.Seuss-

Saya punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama para keponakan sekarang. Bermain, belajar sampai bertengkar. Dari sana saya mengamati tingkah-tingkah lucu mereka, seringkali terperangah oleh kata-kata ajaib yang keluar begitu saja dengan polos. Anak-anak ini, mengajarkan saya banyak hal (selain kesabaran tentu saja) sebelum suatu saat saya jadi Ibu. Anak-anak ini, meski penuh drama tapi sebetulnya juga kode yang utuh bagi para orang tua.

Share..share.. saving
Saya kerap menghadapi anak-anak bertengkar karena tidak ingin berbagi dengan teman lainnya, seringkali mereka hitung menghitung kebaikan yang lalu. Ibu tetangga yang juga istri dari seorang hartawan pernah berbagi tips ke Ibu saya bagaimana membesarkan anak, Ia mengajarkan anaknya sedini mungkin untuk beramal dan berzakat, instead of menabung. Alasannya, anak anak yang dididik untuk berbagi lebih punya empati dan tidak pelit.

Tanpa bermaksud mengesampingkan pentingnya menabung, saya setuju 100% dengan Ibu ini. Masa masa anak adalah masa emas dalam membentuk kepribadian. Menurut saya, penting untuk mengajarkan anak-anak berbagi dan nilai-nilai essensial dari ‘berbagi’ itu sendiri.

Kids will always remember
Anak-anak adalah penonton, pendengar dan peniru yang hebat. Seperti ungkapan Lady Bird Johnson yang saya kutip “Children are likely to live up to what you believe of them.”

Kejadian ini baru tadi siang, keponakan saya (4 th) ingin makan mie, lalu Ia bilang ke neneknya untuk dibuatkan mie tanpa telur. Saya bertanya kenapa tidak pakai telur? Surprisingly, jawabannya membuat saya merasa bersalah. Suatu waktu saya pernah bilang kalo dia bau telur, sejak saat itu ternyata dia tidak mau makan telur karena saya bilang bau. Beruntungnya saya mengetahui ini sebelum lebih memburuk. Saya akhirnya memperbaiki kata-kata saya bahwa telur tidak bau, saat itu saya hanya tidak boleh makan telur karena sedang sakit. Sejurus kemudian dia langsung pesan mie pakai telur 😀

Manusia adalah manusia, sekecil apapun Ia. Kata-kata bagi anak-anak bukanlah seperti angin yang lalu. Kadang juga diresapi, dibawanya tidur dan ditanamnya dalam diri.

Apologizing and forgiving
Setiap kali saya habis marah pada anak-anak, selalu saja ada perasaan menyesal, lalu berujung rindu. Padahal besoknya akan terulang hal yang sama.

Tapi, dari seorang anak 4 tahun yang sering protes karena saya tidak minta maaf sewaktu membuatnya marah, saya jadi paham bahwa permintaan maaf bagi anak, it does matter. Penting, sepenting kita meminta mereka untuk minta maaf setiap melakukan kesalahan. Kadang, ini bagian paling lucu, mereka marah marah tiada henti sebelum saya minta maaf, setelah saya menjulurkan jari kelingking, mereka bisa bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya antara saya dengannya. Kemudian dunia get much better karena kami bisa tertawa lagi 🙂

Leave a Reply