Alasan Kenapa Sebaiknya Kamu Gak Perlu Percaya Amat Sama Influencer

Disclaimer : sentimen negatif tidak terjadi di semua influencer, postingan ini mengandung kejulidan sekian persen.

Seorang influencer internasional yang mengaku bertahun-tahun telah menjalani gaya hidup vegan, Yovana Mendoza Ayrez ketahuan sedang menikmati ikan di salah satu restoran di Bali. Rawvana, biasa Ia disebut sebelumnya selalu menggembor-gemborkan bahwa menjadi vegan benar-benar mengubah hidupnya. Sayang, semua pencitraan itu berakhir, karena banyak pengikutnya yang merasa kecewa. Ini adalah salah satu contoh untuk kita gak perlu percaya-percaya amatlah sama Influencer.

Iklim Influencer dibentuk sejak media sosial mulai digandrungi dan diakses banyak orang. Pertama kali Twitter mulai digunakan secara massive, istilah selebriti kemudian berkembang bentuk tingkatannya sesuai platform darimana selebriti itu dikenal. Sekarang selebtwit, selebgram juga selebtiktok sudah jadi bagian dari dunia sosial.

Saking populernya, tak jarang banyak yang lebih mengenal sosok Influencer ketimbang selebriti yang sudah malang melintang di media massa. Seperti namanya, seseorang dikatakan Influencer ketika sudah mampu mempengaruhi orang lain dalam membuat keputusan (biasanya keputusan membeli). Jadi gak heran kalau Influencer adalah gudangnya endorsment. Tapi kenapa sih kalian percaya banget sama apa yang dibilang Influencer? Berikut ini saya beberkan kenapa kita engga perlu mendewakan influencer apalagi iri dengan kehidupannya:

Foto Bagus Hanyalah Editan
Mengedit foto untuk jadi lebih bagus sekarang engga perlu lagi nunggu not respondingnya photoshop. Sebab, kita bisa melakukan proses editing melalui mobile app gratis di playstore. Beberapa yang paling sering dipakai adalah VSCO, Adobe lightroom, dan Snapseed. Tapi memang sih, semua orang di social media hampir engga pernah mengkurasi fotonya untuk di posting tanpa melalui proses editing (termasuk saya). Jadi kalau kamu lihat foto-foto bagus di internet, turunin ekspektasi kamu 30-50%, karena bisa jadi faktanya engga sebagus itu, hehe. Nih, saya kasih contohnya (doc pribadi).

Endorsment Tidak Jujur
Dilansir dari kompas.com, sebanyak 93% dari postingan sponsor 50 selebgram yang diteliti tidak diberi label sebagai “iklan”. Perilaku ini bisa disebut sebagai kebohongan publik. Menurut Federal Trade Commission (FTC), setiap postingan yang berhubungan dengan keuntungan materi bagi si pengunggah, baik berupa produk gratis atau pembayaran, harus ada label iklan yang dicantumkan secara jelas.

Masalah lain, seringkali para influencer ini mempublish iklan tanpa pandang bulu, dari mulai produk yang sudah terkenal sampai produk-produk yang engga jelas BPOMnya. Alih-alih dibantu Influencer untuk mendapat produk yang tepat, para pengikut justru harus lebih cerdas dari yang diikuti dalam membeli produk endorsan.

Cari Gratisan
Pada Juli 2019, sebuah utas viral lantaran seorang influencer meminta penjual risoles untuk membuatkannya 500 risoles secara cuma-cuma, sebagai imbalan, Ia membayar dengan 3 postingan instagram dan instastory. Kasus yang sama pernah terjadi di Irlandia, seorang youtuber asal Inggris bernama Elle Darby memanfaatkan ketenarannya sebagai vlogger untuk mencari gratisan menginap di hotel bernama The White Moose Cafe. Penawaran kerjasamanya itu ditolak mentah-mentah oleh sang pemilik hotel. Lucunya, setelah kejadian ini Ia membuat peraturan melarang influencer medsos menginap di hotelnya.

Kasus-kasus tidak profesional ini menunjukkan bahwa sebagian Influencer menggunakan popularitasnya untuk cari gratisan semata. Jadi gak perlu bertanya-tanya kalo banyak anak masa kini yang cita-citanya ingin jadi Influencer. Kalau bisa gratis kenapa harus bayar. Errr

Gak Semua Influencer Educated
Kasus ini baru saja terjadi di penghujung tahun, seorang Influencer asal Indonesia tertangkap setelah dirinya positif menggunakan narkoba jenis Amfetamin. Padahal, Ia mempunyai anak berusia 3 bulan yang masih butuh disusui. Kabarnya, konsumsi narkoba yang Ia lakukan adalah kebutuhan karena penyakit Bipolar yang ia alami. Saya sangat sangat menyayangkan kejadian ini, untuk Influencer kaya dan sukses seperti dia, saya yakin harusnya dia sudah tahu apa itu profesi psikiater.

Begitulaah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk tidak over glorified kepada influencer. Menjadi smart consumer itu sudah kewajiban buat diri sendiri. Saya ingin menutup postingan ini dengan mengutip kata-kata dari @prince_ea :

“That word influencer, is interesting to me. Because it’s like, we’re influencing people to do what? Is it to reach a level of beauty, that is not attainable naturally? Is it to have a people lust after cars, or material objects that will never bring somebody true happiness? A lot of people called themselves social media influencers. When you get sick, what did they say? You’ve come down with influenza. A lot of people are ill because of what these influencers put out there. So I just have one question for every influencers, because we’re all influencers. And that question is when people come to your page, do they walk away better or worse?”.

#thought

Leave a Reply