Alur Bunyi

Alur Bunyi
Alur Bunyi at Goethehause

Ada pertanyaan menarik ditengah qna alur bunyi pertunjukan Gardika Gigih dan Tomy Herseta kemarin di Goethe. Seorang penonton bertanya, apakah musik yang mereka mainkan memungkinkan untuk dinikmati oleh orang tuli? Pertanyaan itu sekonyong konyong pecah diantara pertanyaan lain yang kebanyakan muncul karena live at the moment antara piano dan musik elektrik yang dibawakan kedua musisi.

Pfadfinderei sang visual artist dari Berlin yang ikut mendukung pertunjukan menyambut pertanyaan itu dengan hangat. Dengan tegas Ia bilang bahwa kemungkinan itu sangat bisa. Saya tak heran kalo Pfadfinderei bicara demikian. Sepanjang pertunjukkan hal paling sulit adalah memalingkan perhatian dari visual di panggung yang dia ciptakan. Rasanya keseluruhan musik Gardika dan Tomy mampu direpresentasikan dengan apik. Dimulai dari sesi pertama yang suram dan magis, serta sesi kedua yang playfull.

Saya tertarik dengan penjelasan Gardika bahwa orang-orang yang indera pendengarannya tidak normal mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan musik lewat indera lainnya. Itu karena musik sebenarnya adalah bentuk fisik. Mereka bisa merasakan musik melalui getaran. Gardika mencontohkan sebuah film dokumenter (kalo saya tidak salah dengar) berjudul Touch The Sounds tentang Evelyn Glennie seorang tuna runggu yang menjadi perkusionis di berbagai orkestra ternama. Kepekaannya pada dentuman alat perkusi dimulai dari mempelajari getaran. Contoh lain salah satu komposer dunia yang tidak asing lagi, Ludwig Van Beethoven. Ia menciptakan simfoni 9, karya terbaiknya saat pendengarannya 100% tidak berfungsi. Meski awalnya menyandang tuli membuatnya frustasi tapi kemudian karya yang Ia hasilkan malah dikagumi dunia.

Tuhan benar adil. Setiap ada satu yang dihilangkan dari kita. Satu, dua, tiga lainnya ditumbuhkan. Sampai kita engga punya alasan buat nyerah sama keadaan. Gitu li!

Beethoven
Postcard from ka Standy (Beethoven menjadi icon kota Bonn)

 

Leave a Reply