Antara Gojek dan Grab

Berangkat dari pembicaraan tentang lebih menguntungkan dan nyaman mana menggunakan transportasi online antara gojek dan grab? Membuahkan banyak versi dari setiap persepsi yang saya dengar.

Beberapa waktu lalu karena kehabisan gopay, saya mencoba order ojek online dari aplikasi teman saya. Dia bilang hanya punya aplikasi Grab. Teman saya ini kemudian bertanya kenapa saya masih pakai Gojek walau tahu kalo tarifnya jauh lebih mahal? Saya bilang itu karena saya tidak suka menunggu lama. Saya lebih mudah mendapatkan driver Gojek yang juga lebih cepat sampai. Tetapi ternyata jawaban saya ini tidak menyenangkan dia.

Arah pembicaraan kemudian mengerucut pada konteks yang lebih principle. Saya berbicara tentang tidak peduli seberapa mahal saya naik Gojek, selama tidak lebih mahal dari ojek pangkalan. Saya pikir itu juga akan membantu driver untuk menerima bayaran yang lebih layak. Lagipula saya mulai memikirkan untuk buy local product, karena aplikasi tersebut buatan anak negeri. It worth it, but do not have one really good reason for me to hate Grab.

Berbeda dengan alasan saya, teman saya lebih suka pada Grab karena promonya yang sangat banyak dan murah. Gojek punya segudang alasan untuk tidak dia pilih, salah satunya soal postingan blunder mengenai dukungan LGBT yang dilakukan aplikasi itu. Saya bisa lihat betapa dia sangat membenci Gojek karena kasus yang sensitif ini.

Lalu bagaimana sebenarnya persepsi dari para driver antara Gojek dan Grab?

Semenjak Uber tidak lagi beroperasi di Asia Tenggara, semua driver Uber dialihkan ke perusahaan Grab. Therefore, cuma ada dua perusahaan saat ini saling bersaing dalam dunia per-ojol-an. Karena jumlah pengemudi Grab gabisa dibilang sedikit, banyak driver Gojek yang mulai khawatir dengan persaingan ‘engga sehat’ ini. Persaingan engga sehat?

Setiap kali berangkat pagi mengggunakan ojek online dan hari itu akan diadakan demo besar-besaran yang diikuti oleh ribuan driver Grab dan Gojek, saya selalu punya kesempatan dapat cerita tentang alasan demonya. Abang Gojek  bercerita demo ini dimaksudkan agar Grab mau menaikkan tarif nya. Pertama agar driver Grab punya pendapatan yang lebih baik. Kedua, ditujukan agar tarif sesama ojek online tidak berbeda jauh. Sehingga tarif Grab yang murah banget dengan driver yang juga banyak banget dibanding sama Gojek yang relatif lebih mahal menurut para driver ini dapat menimbulkan persaingan yang engga sehat (baca beritanya).

Sekarang saya mulai paham bahwa engga semua driver ini suka ngambil penumpang yang sedang promo apalagi bukan dengan cash. Selain karena harganya miring, engga semua penumpang dengan sukarela ngasih tip ke driver. In conclusion, penumpang engga salah karena itu bukan kewajiban dia. Lagipula kalau memang merugikan driver, kenapa juga harus diadakan promo?

Dengan mengetahui banyak versi ini, kita akan tahu dimana kita berpijak. Konsumen selalu suka dengan apa yang dapat mereka bayar dengan murah. Sebaliknya, pencari nafkah berharap jerih payahnya sebanding dengan nominal yang mereka terima. Suatu saat kita bisa jadi keduanya. Maka selain pemangku kepentingan punya keputusan lebih baik, ada baiknya kita ikut memutuskan jadi orang baik juga bagi sesama.

Antara Gojek dan Grab
Antara Gojek dan Grab Sama-sama Hijau, Photo by Jason Blackeye via unsplash

Leave a Reply