Banjir

Seumur umur, rumah saya tidak pernah diserang banjir. Jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya banjir banjiran di tempat yg harusnya jadi zona paling aman kita. Sebab itu, saya jadi kurang empati sama accident banjir ini (accident atau bencana ya?).

Sampai pada tadi sore, saya menjemput keponakan yang rumahnya dalam beberapa jam lagi akan terendam. Bukan karena datangnya hujan, tapi karena air dikirim dari katulampa menuju kali kali di kota bekasi, jakarta dan sekitarnya. Air kiriman itu diprediksi akan menggenang sedada orang dewasa. Beberapa kepala rumah tangga yang tidak punya pilihan, terpaksa mengungsi di sebuah SD yang sebetulnya juga agak rawan.

Saya jadi mulai kebayang bagaimana susahnya mereka. Kedinginan dan beresiko hipotermia, kekurangan air bersih, tidur tidak tenang, penyakit yang menghantui, dan belum lagi esoknya harus beres beres pasca banjir. Di depan rumah saya di sebuah jalan raya juga sudah mulai banyak ambulance dan mobil TNI lalu lalang. Betapa banyak yang sudah hilang dari banjir ini, materi, waktu, sehat.

Ada keresahan yang menggerogoti pikiran saya saat ini. Saya sebagai entitas masyarakat sipil sering heran sendiri, penanggulangan, penanggulangan, penanggulan tetapi tidak preventif.

Peristiwa banjir mengingatkan saya dengan kebakaran hutan. Teman saya seorang mahasiswa IT pernah cerita kalau skripsinya pada tahun 2014 pernah mengolah data menggunakan bahasa pemrograman untuk mengetahui titik titik bencana kebakaran asap di sebuah provinsi dengan data di tahun sebelumnya. Dia adalah sebagian kecil yang punya peran akademis meneliti tentang kebakaran hutan. Diluar itu? Saya yakin pasti banyak, ditambah lagi kita bisa belajar dari pola pola sebelumnya. Tapi faktanya, kebakaran hutan tiap tahun masih terjadi seolah olah kita tidak belajar.

Begitupula dengan accident banjir. Tidak mungkin tidak ada kebijakan atau sistem yang bisa jadi langkah pencegahan banjir. Masalahnya, pemerintah juga tidak pernah terlihat serius, mungkin saking asiknya menjadi populis.

Rasa-rasanya hujan gak berdiri sendiri sebagai satu-satunya penyebab banjir. Banyak hal yang bisa disalahkan supaya peristiwa ini bisa dievaluasi. Mulai dari pemangku kebijakan hingga masyarakat itu sendiri (termasuk mungkin saya).

Keresahan ditulis tanpa afiliasi/preferensi politik tertentu. (Hujan datang lagi, semoga mereka yang diluar sana selalu dilindungi)
001 of 366

poster ini saya buat untuk World Water Day 2016, issu yang masih relate

#opini

Leave a Reply