Being Vegetarian

I’ve 3 days being lacto-vegetarian and (wish it) still counting

Semua berawal beberapa hari lalu saat long weekend makan dengan adik di Shigeru, lalu kalap makan seafood, esoknya makan bakar-bakaran dan seafood lagi. Besoknya lagi sudah keluar hasilnya. Jadilah beberapa radang di kulit muncul cukup banyak terutama di wajah. Rasanya gatal dan sakit.

Karena itu, saya memutuskan untuk detoksifikasi dengan tidak makan produk hewani apapun kecuali susu dan olahan susu atau yang biasa disebut Lacto-vegetarian. Saya menambahkan porsi buah dan sayur lebih banyak di menu harian. Biasanya kedua jenis pangan itu cuma jadi pelengkap, sekarang adalah yang utama.

Saya cukup pesimis bahwa resolusi ini bisa berjalan long last. Untuk saya yang doyan makan setiap saat, tidak makan produk hewani sama sekali adalah tantangan yang berat. So, i warn you this is not gonna be a vision. haha

Adalah hal paling ganggu selama 3 hari ini saat mencoba untuk ingat bahwa saya hanya makan produk nabati dan susu, dan itu justru membuat saya semakin lapar. Saya mencoba mencari tahu mengapa perasaan lapar itu justru semakin terasa menyiksa karena datang sesering mungkin.

I’m still looking for the answer why are vegetarians always hungry?

Banyak sih artikel yang membahas pertanyaan ini, yang berarti memulai diet vegan/vegetarian memang engga mudah, bukan cuma saya yang merasakan penyiksaan ini ya. Menurut banyak artikel, itu karena kita engga makan asupan yang punya banyak kalori. Disarankan untuk mengonsumsi bahan pangan nabati yang proteinnya tinggi.

Bagi saya hal yang paling match dari kasus saya adalah karena saya belum pada level sepenuhnya. Memang belum ikhlas aja. Gitu deh. Ya gitu. hehe

*post ini sebenarnya ditujukan untuk sambat alias ngeluh (tapi ingin tetep berusaha, tapi pengen ngeluh dikit aja. Gitu hehe)

2 thoughts on “Being Vegetarian

Leave a Reply