Berkarya Setengah Abad : Lanskap Dalam Pengembaraan

Puluhan kanvas berbagai ukuran memenuhi gedung B Galeri Nasioinal Indonesia dengan balutan lukisan lukisan apik yang ditorehkan oleh Arfial Arsad Hakim. Hari itu 9 April adalah hari kesepuluh pameran lukisan yang berjudul “Lanskap Dalam Pengembaraan” digelar. Sesuai dengan judulnya, lukisan-lukisan karya Arfial sangat kental dengan nuansa pemandangan alam yang menyejukkan mata. Dari mulai lanskap di tanah Jawa, Sumatera hingga Brunei Darusallam.

Pria yang kini berusia 65 tahun itu, telah menekuni dunia seni lukis hampir setengah abad lamanya dimulai sejak 1968. Melalui Lanskap Dalam Pengembaraan ini Arfial berusaha merangkai kembali jejak perjalanan melukisnya yang dimulai ketika Ia remaja hingga menjadi pelukis senior sekaligus seorang pendidik. Dalam pameran tersebut, karya-karyanya yang bergaya naturalistik  ditampilkan dalam bentuk sketsa, drawing, dan lukisan.

Arfial mengaku hampir seluruh lukisan-lukisan karyanya yang Ia pajang adalah milik 5 pembelinya yang secara sukarela meminjamkan lukisannya untuk dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia. Lulusan seni rupa ITB ini sebelumnya juga pernah menggelar pameran di beberapa tempat seperti pameran ‘Pesona Indonesia’ di Brunei Darussalam (2004), pameran WTC dan Illen Gallery Jakarta yang diselenggarakan Ilen Galeri (2004), pameran ‘Solo dalam Sketsa’ di Balai Soedjatmoko Solo (2005), pameran ‘Sewindu Beber Seni’ di Museum Benteng Vrederburg Yogyakarta (2005), pameran bersama dengan SUnarto, Setyo Budi, Rusmadi, di Hotel Anggrek Bandung. Serta pameran Biennale Jakarta XII 2006 diselenggaraakn Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Pameran lukisan yang di kuratori oleh Eddy Soetriyono ini berhasil menampilkan perspektif pemandangan alam tanpa adanya unsur manusia di dalam, sebab menurut Arfial ketika ada manusia dalam lukisan alam, tidak bisa menikmati alam secara sempurna. Arfial bercerita apa yang Ia lukis adalah penggambaran alam yang sangat dekat dengan dirinya. Seperti selama menetap di Palembang, Ia melukis rumah apung dan alam palembang dengan langit biru, menurutnya komposisi warna biru untuk menggambarkan langit menandakan bahwa alam tersebut masih asri dan terjaga. Berbeda pada salah satu lukisan lainnya yang juga tentang Palembang, Ia menggoreskan tintanya dengan warna yang relatif lebih gelap, lukisan tersebut Ia buat sebagai penggambaran kota Palembang yang sudah mulai dienuhi polusi sehingga membuat langit tidak berwarna cerah.

Pameran ini akan berlangsung hingga 11 April besok. Arfial kini juga sedang mempersiapkan pameran selanjutnya yang akan di selenggarakan di sebuah galeri daerah Menteng, Jakarta. Ia juga sedang menyelesaikan 5 lagi lukisannya yang belum selesai dilukisnya. Ia berharap pamerannya yang digelar di Galeri Berskala Nasional ini dapat menjadi jalan baginya untuk tetap eksis berkarya dan menampilkan karya-karyanya hingga dikenal luas juga mancanegara.

Aliyah Rizky

09 April 2016

*tulisan ini adalah hasil wawancara dengan Arfial Arsad Hakim dan beberapa data dari sumber lain

Leave a Reply