Belanja Online dengan Bijak dan Kelola Sampah yang Baik

Semenjak aktivitas berbelanja menjadi semakin mudah melalui aplikasi daring, tanggal tanggal cantik bukan lagi hanya disimpan bagi muda mudi yang ingin meresmikan hubungan. Tetapi juga diingat sebagai ajang belanja gila-gilaan. Promo, diskon, gratis ongkir, voucher, points dan segala yang menggiurkan membuat saya dan banyak orang tidak tidur demi berebut barang barang murah sejak jam 12 malam saat pesta diskon dimulai.

Belanja online perlu sikap yang bijak

Kalau saja saya tidak tahu ada manusia lain di seberang kota sana yang membeli hanya dua buah permen yang dikirimkan menggunakan ekpedisi ke rumahnya, saya mungkin tidak juga sadar bahwa kegiatan bakar bakar uang ini ternyata tidak selalu diikuti kesadaran belanja yang bertanggung jawab oleh para konsumennya. (photo source: twitter/txtdarionlshop)

Betul bahwa belanja barang di kala diskon, bisa membuat kita berhemat dan menjadi lebih cerdas dalam mengatur pengeluaran. Tetapi saya jadi sangat sangsi apakah hemat yang kita dapat, atau malah membuat kita menjadi abai? Dalam sebuah penelitian, yang diterbitkan oleh jurnal American Chemical Society menyebutkan berbelanja barang-barang konsumen yang bergerak cepat (cepat laku dan sering dibeli) menyumbang emisi gas rumah kaca lebih banyak dibanding berbelanja di toko fisik.

Kita bisa membayangkan dalam setiap kali pengiriman paket belanja, setidaknya ada beberapa plastik, kardus, kertas dan pembungkus lain yang kita buang. Hal ini jadi mengkhawatirkan jika setiap orang yang berbelanja tidak datang dari proses keputusan yang bijak.

Baru baru ini saya menemukan paling tidak ada 2 alasan yang membantu melihat lebih utuh dibalik segala kemudahan dan promo menarik yang dihadirkan oleh kegiatan belanja online.

  • Belanja online menciptakan lebih banyak sampah
    Seperti yang sebelumnya sempat saya singgung. Sampah yang dihasilkan dari kemasan yang tidak terpakai kebanyakan adalah sampah plastik yang sulit untuk di daur ulang. Membeli hanya sebuah permen, sekotak tissue, atau sebuah sabun batang yang sedang diskon melalui marketplace tidaklah sebanding dengan sampah dan carbon print yang dihasilkan.
  • Impulsive Buying
    Beragam promo dan teknik marketing dibuat sedemikian rupa demi mempengaruhi psikologi calon pembeli untuk melakukan apa yang disebut impulsive buying.
    Sebagai contoh:
    Kamu mendapatkan voucher senilai 50 ribu rupiah karena sudah berbelanja senilai 300 ribu yang hanya berlaku untuk pembelanjaan berikutnya dengan belanja minimal 250 ribu rupiah.

    Paling tidak, kamu berkesempatan menghabiskan uang sebesar 500 ribu untuk berbelanja, yang sebetulnya hanya disiapkan sebesar 250 ribu saja. Bagus jika memang menunggu momen ini, tetapi teknik marketing seperti ini juga bisa jadi menjebak agar kita melakukan impulsive buying. Sebaiknya selalu bertanya kepada diri sendiri Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?

Sekarang, keinginan untuk lepas dari pengaruh belanja impulsif dan tidak bijak diikuti dengan mencari tahu, mendengar dan ikut serta dalam hal-hal kecil yang dimulai dari diri sendiri. Sebetulnya, ada berbagai cara yang saya lihat dan pelajari untuk menjadi konsumen cerdas dan bertanggung jawab demi menimalisir sampah yang kita buat, demi menjaga kewarasan dalam berbelanja, dan juga demi mendukung sesama dalam roda ekonomi.

  • Cerdas belanja online
  • cerdas belanja online
  • Cerdas belanja online

(Images: Aliyah Rizky)

  1. Berbelanja di Toko Lokal
    Jika kita berbelanja di toko yang jaraknya dekat dari rumah, kita tidak memerlukan banyak kertas, plastik atau pembungkus yang banyak. Selain itu, ini juga membantu penjual disekitar agar barang dagangannya laku. Terlebih lagi, jika membeli barang dalam jumlah sedikit, baiknya tidak usah membeli sampai lintas negara selama barangnya dijual juga oleh toko toko lokal.
  1. Mendukung eco-friendly brand
    Saat ini, sudah ada beberapa brand dengan prinsip suistanable brand yang bertanggung jawab terhadap sampah kemasan habis pakai dari produk mereka. Bukan hanya memakai komposisi yang ramah lingkungan, tetapi juga memikirkan kebijakan pengembalian kemasan. Saya sendiri pernah mencoba beberapa produk eco-friendly brand yang sampahnya dapat dikembalikan untuk didaur ulang oleh mereka sendiri, menyenangkannya lagi saya dapat points yang bisa digunakan sebagai potongan harga.
  1. Memilih marketplace yang mendukung usaha UMKM
    Selalu support bisnis lokal, hal ini demi mendukung mereka tetap beroperasi, apalagi selama masa pandemi. Tetapi ingat, untuk membeli dalam jumlah yang wajar. Tidak terlalu sedikit bagi barang yang bergerak cepat, tidak juga terlalu banyak untuk menghindari kekurangan stok dan panic buying.
  1. Memutuskan belanja secara sadar
    Poin ini sangat penting untuk menunjukkan sejauh mana kita bertanggung jawab atas apa yang kita beli. Mulailah dari membaca deskripsi produk dengan seksama, hindari kejadian “ekspektasi yang terlalu tinggi” agar tidak ada proses pengembalian barang yang akan menimbulkan lebih banyak sampah dan jejak karbon . Membeli produk sesuai yang kita butuhkan dengan terlebih dahulu me-riset apakah produk tersebut mempunyai value bagi kita. Oh iya, selalu ada pilihan untuk bertanya pada customer service untuk memastikan bahwa produk tersbeut cukup meyakinkan untuk dibeli
  1. Pengelolaan Sampah
    Meski awareness telah diterapkan dalam keputusan berbelanja, seringkali tetap ada sampah yang akan kita hasilkan dari aktivitas ini. Untuk itu, keterampilan dalam Personal Waste Management alias manajemen sampah pribadi perlu dilatih. Saya pribadi memulai dari hal kecil seperti membuka kemasan paket belanja saya secara rapi. Plastik, bubble wrap atau kardus akan saya simpan dalam box khusus di rumah, dan suatu saat jika saya perlu untuk kirim-kirim barang melalui ekspedisi, saya bisa menggunakannya lagi.

    Tidak berhenti disitu, saya juga mencari tahu dan mencoba up to date untuk menemukan cara cara yang efektif dalam pengelolaan sampah. Melalui media sosial, saya dipertemukan dengan banyak dan beragam media, content creator dan recycling center yang menginspirasi. Salah satu waste management Indonesia yang saya ikuti adalah Waste4Change, perusahaan pengelolaan sampah yang mempunyai banyak program dan menawarkan solusi bagi kita sebagai individu maupun industri(perusahaan) yang ingin mengelola sampah lebih bijak.

    Kalau kamu pernah dengar istilah Bank Sampah, kurang lebih apa yang ditawarkan Waste4Change dalam salah satu layanannya sama seperti Bank Sampah. Kamu bisa mengirim sampah anorganik untuk di daur ulang atau menyetornya melalaui dropbox yang disediakan oleh Waste4Change. Untuk sampah organik, kamu dapat mengelolanya menjadi kompos menggunakan Waste4Change Composting Bag. Saya belum pernah mencobanya, tetapi sangat penasaran dengan composting bag ini, semenjak saya mulai mengoleksi tanaman di rumah. Saya rasa memproduksi kompos sendiri mungkin akan membantu saya berhemat dan tanaman kesayangan menjadi tumbuh subur.

    Jadi tindakan memilih sampah berdasarkan golongannya yang kemudian disetorkan ke bank sampah atau di recycling sendiri bisa jadi solusi bagi kita dalam mengelola sampah agar tidak berakhir sampah yang bercampur di TPA.
belanja online
source: waste4change.com

Saat-saat seperti sekarang, rasanya sulit untuk menghindari kegiatan belanja secara online terutama ketika pentingnya menerapkan pembatasan sosial. Kesimpulannya, bukan berarti meniadakan sama sekali belanja online, tetapi agar kita lebih bijak dan bertanggung jawab terhadap keputusan berbelanja serta sampah yang kita hasilkan. Karena aksi kita hari ini menentukan kehidupan kita dan manusia manusia lain di masa yang datang.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Aliyah Rizky

Leave a Reply