Cerita Tentang Rambut

Saat itu sedang libur panjang setelah kelulusan. Sembari menanti pengumuman ujian masuk perguruan tinggi, saya dan teman-teman sekolah mencoba magang short time dengan menjadi SPG di suatu department store cukup terkenal.

Itu adalah pengalaman pertama bekerja sebagai SPG dan kemungkinan menjadi yang terakhir. Bukan karena saya mendiskreditkan profesinya, tetapi ada trauma di hari-hari yang saya habiskan selama sebulan itu. Sebagai seorang bocah SMA baru lulus, saya datang di hari pertama bekerja dengan pakaian serapi dan sesopan mungkin. Tetapi di tegur oleh senior, katanya rok saya kurang pendek. Saya kaget, apakah ada pengaruhnya dengan performa. Ternyata itu sudah jadi peraturan perusahaan, sebelum masuk toko pun kami di check satu persatu oleh security, apakah pakaian dan make up sudah lengkap sesuai standar.

Beberapa hari berikutnya saya menyadari bahwa ini tidak berjalan dengan mudah. Mungkin karena baru pertama kali kerja, saya tidak gampang beradaptasi, pelupa dan tidak bisa pakai sirkam. Yang terakhir itu, soal sirkam saya baru tahu ada sebuah benda bernama sirkam untuk menata rambut. Karena tidak bisa memakainya, saya selalu meminta bantuan teman, kadang juga kakak senior.

Suatu hari, saya menghabiskan jam istirahat sendiri. Saya ingin menata ulang rambut, lalu meminta tolong seorang senior yang kebetulan baru selesai istirahat. Ia pakaikan sirkam dan gagal berulang kali, lantaran rambut saya terlalu tebal dan jatuh. Sampai akhirnya si sirkam patah dan kakak itu menyerah. Saya ditinggalkannya sendiri di ruang loker, bingung dan panik sebab tidak tahu harus bagimana. Ibu security yang biasanya sangat galak berbaik hati memberi tahu kalau ada seorang karyawan yang menjual sirkam. Waktu istirahat saya jadi kelebihan karena masalah ini dan saya merasa sangat tidak enak.

Keesokan hari adalah jatah libur yang saya pakai untuk menimbang-nimbang. Sepertinya harus potong rambut supaya tidak lagi harus memakai sirkam. Hari itu, saya pergi ke salon Mawar memotong rambut sependek mungkin. Sedih sekali rasanya, tetapi ketakutan kalau sewaktu waktu saya mematahkan sirkam lagi (belum lagi tidak terampil memakainya) lebih besar saat itu. Teman-teman kaget, dan beberapa orang hampir tidak mengenali karena potongan rambut yang terlalu pendek.

Sebetulnya, setelah itu saya sempat beberapa kali potong rambut pendek. Tetapi, tentu dengan kerelaan hati dan alasan yang menguntungkan (dan tidak sependek dahulu). Benar adanya, kalau sesuatu dilakukan dengan tekanan dan beban akhirnya malah jadi menumpuk penyesalan. Saya menyesal sekali, kenapa tidak habiskan saja semalaman untuk belajar bagaimana cara memakai sirkam. Apalagi saya hanya magang selama sebulan saja disana.

Sekarang ini, saya sedang giat-giatnya merawat rambut. Saya memakai minyak kemiri kadangkala urang aring setiap dua kali dalam seminggu, juga menggunakan conditioner dan hair repair mask. Mood bisa meningkat dua kali sesudah merasakan rambut yang lembut dan wangi. Sedang menimbang nimbang ingin mewarnainya, tapi takut rusak di kemudian hari. Sesayang itu saya 🙁

Ini rambut saya dulu. Doc: pribadi

Leave a Reply