Cita – cita baru

Sharing session
Sharing session

Sabtu minggu lalu saya diajak teman untuk mengikuti acara sharing session bersama Oka Mukti di sebuah mall di Jakarta. Oka san/Mas Oka biasa dipanggil, adakan acara tersebut secara gratis bagi para calon pelancong atau para calon mahasiswa yang akan pergi ke Jepang dan ingin mengetahui lebih banyak bagaimana perjalanan ke jepang itu sendiri. Saya pikir ini akan jadi ajang yang sangat awkward antara saya dengan peserta lain, karena ini adalah pertama kalinya saya ikut acara perkumpulan komunitas yang dibuat di grup facebook (itu juga atas rekomendasi teman).

Tapi ternyata saya salah, saya rasa justru inilah the real meet and greet yang seharusnya dilakukan antara influencer dengan para fansnya. Pertemuan kami dengan mas oka yang hangat ini mengantarkan kami pada pemahaman pemahaman baru tentang jepang dan seluk beluknya. Setiap orang bahkan saling membuat ittenary sendiri dan meminta untuk dikoreksi oleh mas Oka. Selain bertanya untuk kepentingan perjalanan sendiri, saya juga bertanya tentang hal hal umum di jepang dan beberapa isu yang selama ini sering ditanyakan oleh banyak orang, seperti halnya alasan dibalik ilegalnya airbnb di jepang.

Mas Oka menjawab pertanyaan kami dengan sangat detail, bahkan jika kami masih belum mengerti, kami diberi akses untuk menghubunginya lewat whatsapp. Dan yang lebih hebatnya, ia buka sharing session ini dari jam 12 siang hingga jam 10 malam (saya hanya ikut satu jam). Meskipun waktu segitu tidak cukup terasa untuk dihabiskan di mall. Tapi sewaktu saya datang dan jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mas Oka masih menjawab semua pertanyaan peserta tanpa adanya rasa rasa lelah atau isyarat bahwa pertanyaan tersebut sudah disampaikan sebelumnya. Bahkan kami juga banyak dapat oleh-oleh berupa map dan majalah dari mas Oka yang Ia bawa dengan koper besarnya.

Oka Mukti
Oka Mukti

Karena sebenarnya saya sendiri kurang kenal dengan mas Oka, selepas dari acara tersebut saya berusaha mencari tahu siapa seorang Oka Mukti. Mas Oka adalah seorang travel blogger, salah satu penulis perjalanan yang juga ikut berkontribusi dalam pembuatan majalah JAPON. Seorang tour guide, pembicara di berbagai acara yang terkait dengan kebudayaan jepang, dan juga pendiri dari forum yang ia buat di grup facebook bernama Globe Travelers, sehingga pengalamannya tidak diragukan lagi.

Dari serangkaian awal cerita saya diatas, saya ingin mulai membahas poin dari apa yang ingin saya sampaikan melalui postingan ini. Setelah bertemu dengan orang seperti mas Oka saya jadi punya cita cita baru yang kemudian terpikirkan begitu saja. Bukan, bukan menjadi travel blogger, bukan pengen jadi influencer, bukan pengen dikenal banyak orang lalu dimintai tanda tangan dan fotonya. Tapi, cita cita baru saya itu adalah saya ingin jadi orang baik yang bermanfaat.

Ali, apakah itu sebuah cita-cita?
Saya juga tidak tahu bagaimana mendefinisikan cita-cita yang baik, semakin berumur semakin banyak hal yang sudah dilalui, saya merasa cita-cita berkembang menjadi lebih sederhana, dan cita cita saya saat ini adalah menjadi orang baik yang bermanfaat (sebagai apapun saya menjadi), sesederhana itu. Saya yakin semua orang mampu menjadikan dirinya bermanfaat dalam profesi yang sedang dijalani setidaknya untuk dirinya sendiri. Tapi ada yang lebih saya kagumi, yaitu orang-orang yang berbagi hal baik ke orang lain secara cuma-cuma dengan suasana yang menyenangkan.

Bukan bermaksud pamer kebaikan, tetapi hal pertama setelah tercetusnya cita-cita itu yang saya lakukan dan bangga dengan diri saya adalah ketika saya mulai peduli dengan lingkungan, terutama teman-teman yang sedang sakit. Setelah beberapa waktu lalu saya kena serangan episodic paroxysmal anxiety (btw, i promise i will write about this), saya merasa bahwa tidak ada sakit yang lebih baik. Saya tidak lagi berpikir sakit mag lebih baik dari sakit gigi, atau sakit gigi lebih baik dari sakit punggung. Semua rasa sakit itu tidak enak. Dan ada banyak kasus rasa sakit yang kita alami hanya berawal dari cemas atau stress. Jadi, kemarin sewaktu rekan kerja saya sakit lambung dan sulit untuk konsentrasi saya mulai memahami bahwa Ia perlu dibantu. Saya berpikir apa yang bisa saya bantu, saya temani Ia beli makan, saya arahkan ia untuk makan buah, saya bantu untuk atur teman lain agar bisa membackup pekerjaannya, saya bantu dengan pijat dan juga mendengar keluhannya. Dan saya merasa lega saat Ia merasa lebih baik. Mendengar hal itu hati saya kemudian menginterpretasikan sebuah kebahagiaan yang saya tidak mengharapkan apapun timbal baliknya. Saya senang, saya merasa cukup 🙂 .

Dokter saya bilang, kita memang engga pernah tahu suatu rasa sebelum kita mengalaminya sendiri. Sehingga pengalaman tidak enak itu akan membuat saya tahu rasanya saat seseorang berada pada posisi yang sama, dan pengambilan hikmah yang baik di balik itu semua, pengalaman membuat kita jadi lebih peduli dengan orang lain.

21 Juli 2018

Leave a Reply