Belajar Dari Mati Lampu : “Never Take Things for Granted”

Mati lampu
Photo by Paolo Nicolello via unsplash

Jakarta, dan banyak kota lainnya di pulau jawa mengalami mati lampu (istilah umum untuk mati listrik) selama 12 jam lebih, dan jadi catatan buruk bagi PLN dan pemerintah. Engga hanya mati lampu, akses komunikasi juga sangat terbatas. Meski begitu, ada kabar gembira yang nunjukin kalo kualitas udara di Jakarta justru membaik setelah mati lampu.

Saya mengalami mati lampu sejak pukul 12 siang pada hari minggu hingga pukul 4 dini hari. Pemadaman listrik dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya oleh pihak PLN. Alhasil, kami hanya mengandalkan tampungan air dari tandon untuk kebutuhan mandi dan toilet yang dijatah setiap orang. Saya bangga, saya bisa juga mandi hanya 8 gayung dan memastikan bahwa jumlah tersebut tidak kurang untuk kebersihan badan.

Selama mati lampu, kami hanya mengandalkan lilin dan lampu senter untuk penerangan. Gak ada aktifitas gadget, gak ada aktifitas menyendiri di kamar masing-masing. Semua anggota keluarga berkumpul di depan rumah, makan bareng dengan tema candle light dinner (literally). Saya, adik dan ibu tidur di satu kamar yang sama. Meski jadi sempit dan gerah (banget) kamar saya jadi ramai.

Saya engga sendiri. Teman-teman yang curhat di instagram atau twitter juga merasakan kualitas waktu yang dihabiskan bersama keluarga selama mati lampu. Ternyata, mati lampu meski sangat menyebalkan tapi juga punya banyak hikmah yang bisa dipetik. Listrik yang setiap hari kita konsumsi, saking mudahnya diperoleh rasanya jadi hal yang engga pernah terpikirkan kalo suatu saat engga ada. Padahal, kita sangat ketergantungan dengan listrik itu sendiri, sampai-sampai kalo dalam sehari engga ada pasokan listrik, kehidupan rasanya jadi lumpuh.

Listrik bukan satu-satunya hal yang bikin kita jadi take it for granted. Paling tidak, saya merangkum beberapa untuk jadi bahan merefleksi diri bersama.

  • Udara
    Seperti data dari link berita ini, kualitas udara jakarta membaik setelah terjadinya pemadaman listrik yang cukup lama. Sebelumnya diberitakan bahwa kualitas udara di Jakarta jadi yang paling buruk di dunia karena tingkat polusi yang tinggi. Kebayang engga sih kalo udara yang biasa kita hirup setiap hari ini, akhirnya harus dibeli atau diimpor dari daerah lain, karena sudah engga memungkinkan untuk kelangsungan hidup?
  • Air
    Ini masih efek domino dari kejadian mati listrik, karena sumber listrik engga ada, air yang diperoleh dari energi pompa jadi engga bisa diambil. Kalo sudah gini, kebiasaan mandi, mencuci menggunakan air berlebihan tanpa dosa jadi berasa banget. Air jadi harta yang dijaga benar-benar.

Selain listrik, udara dan air, saya juga ingin menambahkan satu hal yang mungkin engga disadari sama banyak dari kita yang tinggal di Indonesia.

  • Beribadah
    Sebagai seorang muslim yang tinggal di Indonesia, tempat ibadah/masjid,mushola atau surau bukan hal yang sulit untuk ditemui. Tapi, kemudahan ini engga selalu bisa ditemukan diseluruh pelosok dunia. Sewaktu saya berlibur di beberapa negara dengan minoritas muslim seperti Thailand dan Jepang, Masjid adalah bangunan yang sangat langka. Saking langkanya, saya jadi terpana sekali sewaktu mendatangi sebuah masjid di Kota Kobe, Jepang. Kasus beribadah ini juga dialami banyak orang-orang yang jadi mayoritas di negara asalnya tapi kemudian pergi ke suatu tempat yang menjadikan dirinya minoritas.

Karena semua hal diatas (dan masih banyak hal lainnya lagi) ternyata sangat berarti di kehidupan kita, mari kita merefleksi diri untuk menyadari dan mensyukuri betapa pentingnya value dari sesuatu yang selama ini kita anggap take it for granted. #Thought

8 thoughts on “Belajar Dari Mati Lampu : “Never Take Things for Granted”

  1. Saya mampir krn efek judul “8 gayung” kamu 🙂
    kejadian kemarin itu cukup rame juga ya, blackout, jakarta padam, rakyat jelata ngga punya emergency lamp, PLN ngga punya emergency plan untuk hal hal macam begini.

    Untuk listrik sebenarnya ngga terlalu ngeluh sih, karena punya pikiran “nanti juga akan nyala kok”. (Secara kan masih tinggal di kota), stok air cukup, backup listrik jga cukup.

    Pada kejadian kemarin, saya mendapati hal hal baik di sekitar saya yg sempat saya anggap enteng, udara dan suara. Plus bisa ngajar sang anak tentang api lilin dan cara mainin lilin. 🙂

  2. Setelah baca artikel ini saya sangat setuju sekali dengan adanya berkah atau positive thought dari setiap permasalahan di dunia ini, contoh kecil ya itu mati lampu

    Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu
    Cintaku tanpamu ya sayang bagai malam tiada berlalu……

    (lah malah nyanyi april wkwkwk)

    yakin deh masyarakat Indonesia wabilkhusus Jabodetabek penduduknya mainnya kurang jauh.
    Belum pernah merasakan sulitnya pasokan air, listrik, dan hal kebutuhan sekunder lainnya. Coba mainlah ke Kab. Timor Tengah Selatan, NTT, air menjadi barang mewah disana, dan listrik pula. Saya pernah kesana dan sangat bersyukur banget dengan keadaan sekarang. Nggak usah manja deh. wkwkwk
    Cobalah untuk mengambil hikmah dalam setiap keadaan, kalau mati lampu ya tidur bareng-bareng sama keluarga, curhat-curhat, main musik non electrik, dan menulis dibuku misal. Itu kan produktif.

    Kalau mau menyalahkan PLN hmmm saya rasa perusahaan sekelas PLN pasti punya alat deteksi mau mati lampu gitu. Secara hati juga ada deteksinya kan hahaha. Kemarin mengutip dari harian kompas senin 6 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mendatangi kantor pusat PLN dan meminta klarifikasi serta pertanggungjawaban dan apa jawaban dari plt. Dirut PLN?, akan bertanggung jawab kan nahh inilah kita berikan apresiasi bukan caci maki. okeeehhh sekian dan terima kasih

    kerugian milik kita
    kesempurnaan hanya milik Tuhan.

    Penulis,

    Aprilya Eka Putri

    Kunjungi blog ra ono faedah saya hahaha
    aprilyaaworld.wordpress.com

    • Hahahaha April,
      Aku auto nyanyi ituuu lagunya mati lampuuu.

      Makasih sharingnya pril,
      Percaya karena april sang penjelajah pedalaman indonesia. Hatinya pun acap kali tertinggal disana, 😁😁😁😁😁😁

      • wkwkwk tau aja ini kak al,

        perlu di tag orangnya nggak ? wkwkwkkw

        sama-sama ya kak semoga sukses terus yaaa. aamiin

        -Aprilya sang penjelajah-

Leave a Reply