Joker 2019

Menonton Joker di penghujung hari yang buruk adalah sebuah kesalahan. Film ini benar benar dark. Ada banyak rasa sakit yang dibangun dari karakter seorang Arthur Fleck, sebagai Psikopat yang berhasil bikin penonton bersimpati. Karena itu, ada baiknya habis nonton ini, mencari yang segar-segar.

Kalau nonton film-film sebelumnya, Karakter Joker mungkin hanya akan meninggalkan kesan sebagai super villain saja. Tapi lewat film ini, kita diajak untuk flashback to the untold story of Joker yang membuat dia jadi cinta banget sama kejahatan. Bukan hanya itu, ketawanya yang khas juga punya cerita yang kelam. Ini jadi hal yang ironis dengan panggilan sayang Ibunya ke Joker yang sering panggil dia “happy“. As Joker said dia engga pernah merasakan happy barang semenit pun.

*Aduh, mau nangis lagi ngetiknya.

Kisah suramnya dimulai dari bullying yang Ia terima sebagai badut. Bullying terhadap disordernya, dikhianati temannya sendiri, menjadi delusional untuk kisah cintanya, dan yang paling twist adalah fakta tentang Ibunya yang bikin penonton syok.

Film ini sangat berhasil akibat kepiawaian Joaquin Phoenix memerankan Joker. Gesture menari, cara Ia tertawa , sampai postur badannya yang memprihatinkan. Membuat kita percaya bahwa Arthur Fleck ini memang ‘sakit’. Lagi-lagi, film Joker juga ditolong oleh scoring music yang sangat bagus. Menurut saya, banyak komposisi musik yang dibuat untuk membangun ironi.

In the end, saya pikir ini bukan film tentang yang baik dan yang buruk. Bukan tentang hero dan penjahatnya. Film ini tuh rasanya dekat sekali dengan kehidupan, realitas yang baik dan yang buruk menjadi abu-abu. Gloomy and beautiful at the same time. #recommendation

I used to think that my life was a tragedy. But now, i realize it’s a comedy

Arthur fleck

Leave a Reply