Kebakaran

Awal tahun ini kabar dunia dibuka dengan beberapa heartbreaking news. Banjir, kebakaran dan perang. Tadi malam saya bermimpi di sebuah rumah, sekitar 15 meter jaraknya dari rumah saya mengalami kebakaran. Semua orang di sekitar panik, kemudian bergegas untuk mengumpulkan dokumen-dokumen penting. Lalu saya terbangun dan mimpi itu membayangi sepanjang hari.

Kebakaran besar di hutan Australia membuat saya takut dan kelam. Saya bisa menangis semalaman karena melihat video para koala terbakar dan kehausan. Koala adalah binatang yang berjalan dengan lambat dan itu cukup rentan membuat dirinya menjadi korban. Sampai saat ini, saya membaca bahwa ada 24 orang meninggal, 500 juta binatang mati, 8000 koala mati, lebih dari 5,5 juta hektar hutan terbakar, lebih dari 1400 rumah terbakar, dan lebih dari 10 juta orang menghirup udara beracun akibat kebakaran.

foto diambil dari telegraph.co.uk

Banyak pakar menilai bahwa kebakaran hutan meski disulut oleh ulah manusia, tetapi juga lantaran suhu panas yang tidak kunjung usai akibat perubahan iklim. Namun, perubahan iklim itu sendiri paling banyak berasal dari dampak kegiatan manusia. Sayangnya, menurut data, 18% orang Indonesia dan sebagian masyarakat dunia tidak percaya akan hal itu.

Salah seorang dari kelompok 18% itu adalah sepupu saya sendiri yang cukup konservatif. Saya punya sedikit cerita untuk itu. Tadi pagi, saya menyampaikan berita kebakaran hutan di Australia melalui grup keluarga besar dengan narasi bahwa kebakaran ini juga dipengaruhi oleh climate change, untuk itu kita perlu buat perubahan kecil dengan tidak membuang sampah sembarangan misalnya atau hal hal lain dari kegiatan buruk manusia.

Kemudian, seorang sepupu dibandingkan percaya dengan paparan saya, Ia menyarankan saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang HAARP di youtube (((((youtube))))). Sebuah teknologi buatan Amerika yang banyak dipercayai sebagai alat pembuat gempa dan menyababkan terjadinya bencana dahsyat. Berdasarkan penuturan seorang ustadz, HAARP sengaja dirancang khusus oleh iluminati untuk kehancuran total demi mengurangi populasi manusia.

Saya tidak tahu harus berkomentar apa soal ini, saya tidak percaya dengan teori konspirasi HAARP. Tapi tidak memungkiri bahwa setiap kelompok/organisasi/negara dapat melakukan apa saja demi perang. Dan perang, hanya akan membawa kesengsaraan orang-orang yang tidak bersalah.

Saya menyadari, punya niat yang mantap untuk perubahan kecil dalam climate change saja sudah berat, apalagi meminta orang lain untuk ikut sadar. Memberi kritik untuk kebijakan pemerintah sering dikaitkan dengan afiliasi politik tertentu, mengajak memberi perhatian lebih ke alam dilabeli sebagai SJW dengan tendensi yang negatif.

Kalau sudah banyak orang yang siap dengan kehancuran bumi, tidak mungkin manusia masih memproduksi keturunannya. Jadi, sebetulnya kita punya segudang alasan untuk bikin bumi ini sehat lagi.

#opini

2 thoughts on “Kebakaran

Leave a Reply