Makanan yang Belum Pernah Saya Makan

Judul lebih tepatnya barangkali: makanan populer di keseharian yang belum pernah saya makan dengan atau tanpa alasan. Begini kira kira daftarnya:

  • Petai dan Jengkol
    Berkali kali saya meyakinkan orang bahwa durian itu enak, pun sebaliknya beberapa orang selalu menggoda saya bahwa petai dan jengkol itu makanan lezat atau paling tidak, makanan enak yang bikin ketagihan. Pada dasarnya, aroma juga jadi selera masing-masing orang. Bagi saya, meski aroma durian menyengat, namun masih sangat bisa ditolerir dan rasanya sungguh enak. Ta tapi tidak untuk petai dan jengkol. Meski banyak orang berkata rasanya enak, saya sama sekali tidak penasaran, tidak ingin, tidak mau, tidak suka. Dari kecil saya kerap dibaui aroma petai dan jengkol oleh bapak dan kakek saya. Kalau sedang makan di rumah, seisi rumah jadi bau, apalagi bagian kamar mandi. Masalahnya kamar tidur saya dekat kamar mandi, mau nangiiis teruus 🙁
    Nampaknya permusuhan saya dengan petai dan jengkol akan langgeng. Belum ada tanda-tanda saya punya keinginan untuk memakannya.
  • Sate Kelinci
    Kelinci si hewan lucu, yang juga sering jadi peliharaan banyak orang. Saya beberapa kali pernah memelihara kelinci. Semua peliharaan saya beri nama denih. Sayangnya denih selalu mati mendadak. Saya jadi tidak mau lagi punya peliharaan karena tak tega takut mereka mati atas kelalaian saya, kecuali kucing yang datang sendiri. Lantaran tidak tega dengan bentuknya yang imut, yang juga mirip kucing, saya belum berani memakan sate kelinci. Jadi, saya sama sekali tidak kebayang daging kelinci itu rasanya seperti apa?
  • Oyong
    Dahulu Ibu seringkali membuatkan sarapan nasi hangat dan sayur bening isi oyong. Meski saya suka kuah sayur bening, saya tidak pernah memakan oyong. Tidak ada alasan yang jelas. Saya cuma kurang percaya saja sama rasa oyong. Sama seperti saya tidak percaya rasa terong yang kata orang enak. Tapi berangsung angsur saya mulai mau cicip cicip rasa terong. Mungkin juga suatu saat saya akan luluh untuk coba menikmati sayur oyong. Kalau sama oyong, saya tidak punya gejolak batin yang cukup berarti.
  • Leunca
    Leunca utuh dihidangkan paling pas dengan sambal tomat atau sambal sambal lainnya bersamaan dengan lalapan kol dan lauk panas. Meski selalu melihat pemandangan ini di tiap makan makanan sunda, saya tidak pernah penasaran dengan rasa leunca. Saya lebih memilih untuk menghindarinya. Di bayangan saya, makan leunca mentah (belum ada proses pemasakan) pasti aneh dan pahit.
  • Rujak Bebeg (Tumbuk)
    Saya suka sekali buah, setiap hari selalu dibelikan buah sama Ibu dan saya sadar makan buah itu sangat penting bagi tubuh. Tapi kalau buahnya sudah berbentuk rujak bebeg, saya lebih baik mengundurkan diri. Jangankan rujak bebeg, rujak irisan biasa kalau sudah disirami bumbu rujaknya, saya segan banget. Menurut saya, seharusnya buah itu dikonsumsi dengan cara yang elegan. Menambahkan bumbu rujak yang pedas bersamaan manis asamnya buah, apalagi membuat buah ditumbuk tumbuk adalah perbuatan yang aneh bagi saya.
  • Babi
    Babi sih memang haram. Tapi sekalipun tidak haram, saya bakal pikir berkali kali untuk mengonsumsinya. Kayanya, ada trauma tersendiri pernah melihat peternakan babi dari dekat. Melihat induk induk babi dengan suaranya yang khas sedang goler goleran di tanah becek yang kotor. Tapi saya akui, aroma masakan babi ternyata enak. Pernah suatu ketika sedang jalan jalan di surya kencana saya mencium bau sate yang sedap. Setelah ditengok, ternyata gerobaknya bertuliskan ‘Sate Babi’. Yah pupus.

Segitu dulu daftarnya, rasa rasanya saya punya banyak lagi makanan yang belum pernah dicoba. Tapi sekarang cukup sulit merecallnya. Maybe next time 🙂

2 thoughts on “Makanan yang Belum Pernah Saya Makan

Leave a Reply