Masuk UGD

Photo by Hailey Kean on Unsplash

Dua minggu paling menyebalkan di bulan ini akhirnya ditutup dengan masuk UGD.

Hari itu saat lagi asyik asyiknya makan sambil nonton tv. Tiba tiba tubuh saya terasa ringan, dada saya sesak, badan seketika lemas. Saya menghampiri bapak dan bilang kalau saya amat sangat lemas mendadak. Lalu saya minum dan beranjak ke kamar diikuti bapak. Saya langsung rebah dan merasa ruh saya seperti mau keluar. Saya hampir tidak bisa berkomunikasi dengan bapak. Tapi saya sadar dengan yang saya alami.

Bapak panik karena saya menangis dan istighfar tiada henti. Kaki saya begitu dingin. Lalu saya ditegakkan dan dipeluk sambil diusap usapnya punggung saya. Sebelum akhirnya saya dibawa ke rumah sakit, saya pikir saya akan mati dipelukan bapak, saya bilang sama Tuhan, “ya Allah jangan sekarang”.

Sesampainya di UGD,setelah kondisi lebih membaik, dokter tanya sama saya.
“Kamu puasa”
“Iya dok, tapi sudah batal sejak siang”
“Makan apa?”
“Makan.. ((Astaghfirullah saya baru ingat)) es kopinya AW dok”
Dokter dan suster sepakat untuk bilang “NAH!”
“Membatalkan puasa itu dengan yang manis manis tapi bukan kopi. Sakit yang kamu rasakan itu akibat asam lambung kamu naik sampai ke ulu hati” begitu ucap dokter.

Akhirnya saya pulang ke rumah, sekitar 1 jam ditangani. Segalanya berjalan begitu cepat hingga esok hari saya sudah bisa menikmati minggu saya yang tentram. Hidup saya kembai normal.
Tapi ternyata itu hanya sementara, dua hari pasca masuk UGD gejala yang saya alami kembali kambuh di tempat kerja. Saya terpaksa harus batal puasa untuk menenangkan diri meneguk air putih hangat.

Senin, selasa, rabu saya masih merasakan cemas berlebihan, dan sesak napas. Saya tidak mampu menjelaskan ke semua orang, bagaimana perasaan ini muncul mendadak dan membuat saya seolah akan mati sebentar lagi.

Saya cerita ke beberapa teman (yang hobby minum kopi) mengenai masalah kesehatan yang saya hadapi, saya juga akhirnya cerita ke teman – teman yang terlanjur melihat saya sedang menahan sakit. Sampai akhirnya, devy mengenalkan saya ke temannya bernama Kartika di tvl dan Almira juga cerita kalo teman kami jeje pernah merasakan gejala yang sama.
Saya buru buru menghampiri jeje, saya ceritakan semua seperti halnya saya cerita ke teman-teman yang lain. Saya juga menghubungi kartika via whatsapp supaya dia bisa sharing ceritanya ke saya.

Saya benar-benar ga nyangka. Waktu saya mencoba sharing dengan jeje atau kartika, saya merasa hidup saya bergairah lagi. Sebegitu magicnya. Hanya dengan tahu bahwa ada orang lain yang juga merasakan hal yang sama, hanya dengan mereka dengar saya cerita tanpa nyalahin saya yang bodoh ini saya merasa jauh lebih baik, dan mereka support saya untuk ngelakuin lagi hal hal yang kita suka dan udah lama kita tinggalin untuk menghindari stress dan overthinking. Mereka bilang gejalanya ga akan lama kalo kita mulai letting go, kalo kita mulai bisa ngatur pikiran kita untuk selalu happy saja. Iya benar, saya nangis jeje bilang itu. Sekian lama kita pakai tubuh kita untuk ngejar ambisi yang ga ada habisnya, cuma buat nyakitin diri kita sendiri, tanpa kasih keseimbangan dengan ngelakuin hal hal yang kita suka.

Saya berterima kasih kepada jeje maupun kartika, dan juga teman teman lain yang support, saya beruntung mengenal mereka. Gara-gara kopi (dan tentunya dua minggu ujian yang melelahkan), saya jadi paham bagaimana kita perlu aware mengenai mental illnes ini. Kesehatan fisik saja tidak cukup, karena melalui pikiran tubuh kita terkoneksi dengan kesehatan jiwa juga.

Dear pembaca, siapapun yang mungkin tidak sengaja membaca artikel ini mengalami hal serupa, saya ingin teman-teman tahu bahwa teman-teman tidak sendiri, dan segala apa yang kita alami menimbulkan rasa sakit di tubuh sesungguhnya merupakan peringatan bagi diri kita. Bisa jadi, ini cara saya ditegur sama Tuhan untuk berserah, untuk bertumbuh jadi lebih ikhlas, lebih tinggi dan lebih hakiki.

PS :
keadaan yang saya alami untuk penyakit lambung namanya GERD
anxiety / psikosomatis untuk kecemasan berlebih

One thought on “Masuk UGD

  1. Pingback: KECEMASAN - Mon Journal

Leave a Reply