Tentang Tanah Runcuk #1

Saya ingat pernah jatuh cinta pada lagu I’ll Take You Home yang diambil dari Album Kita Sama-sama Suka Hujan milik Banda Neira, Frau dan Gardika Gigih. Saat itu Oktober 2016, dalam perjalanan menuju kota yang dingin, yang malamnya mencapai 2 derajat celcius. Bukan saja karena lagu ini sangat indah, tetapi juga diselipkan sebuah puisi yang selalu saya putar ulang. Puisi itu tentang Tanah Runcuk, yang ditulis oleh Ludwig Stern dan Kreuzer Wallach. Saya sangat tertarik dengan sebutan Tanah Runcuk yang mana tidak pernah saya dengar sebelumnya.

***

Stern memutuskan meninggalkan dunia perdagangan kopi dan melakukan pelayaran pertamanya ke Tanah Rundjuq (Runcuk) bersama Wallach, teman masa kecilnya dan pada saat yang sama seorang guru, juga seorang antropolog dari Frankfurt. Keduanya sama-sama berasal dari Jerman.

Tanah Rundjuq digambarkan sebagai daerah yang “telah hilang”. Beroperasi secara tak terdeteksi pada masa kolonialisme Hindia Belanda. Jalur pelayaran Belanda-Rundjuq serta pulau Rundjuq itu sendiri diketahui oleh Stern melalui surat seorang kolonial Hindia-Belanda kepada Droogstoppel.

Baru-baru ini diketahui bahwa Peta Pesiar Kuno Belanda-Rundjuq adalah peta yang dibuat secara rahasia oleh seorang kartografer VOC bernama Johannes van Witsen pada tahun 1780 (periode terakhir sebelum VOC secara resmi dibubarkan). Sayangnya, menurut catatan Sam Bergmann yang diterbitkan dalam Journal of Appolo-Historia, peta ini dinyatakan hilang di tengah perdagangan ilegal barang-barang antik setelah Perang Dunia II (source).

Penggambaran Tanah Rundjuq kemudian banyak ditemukan melalui catatan Stern dan Wallach, salah satunya melalui puisi, Stern berbicara soal aktivitas bermusik masyarakat Tanah Runcuk sebagai sebuah keseharian yang tidak bisa lepas .
“…Pertama kali aku menginjakkan kaki ke Tanah ini, ada musik yang mengalun seiring hembusan angin, yang membuat dedaunan pepohonan yang berjajar di Tanah Runcuk berbisik. Aku melihat para perempuan di Tanah Runcuk berdiri berpencar di sela-sela pepohonan, mereka semua saling berbisik. Setiap kata yang dibisikkan oleh para perempuan tersebut berbeda satu dengan yang lain. Ada yang diucapkannya perlahan dan terpotong-potong, ada yang diucapkannya secara cepat dan tak berkesudahan.”

*to be continue

Leave a Reply