Menghargai Diri Sendiri

Semakin lama saya semakin sadar kalau bentuk menghargai diri sendiri bisa dilakukan dengan banyak cara sederhana. Bukan menjadi egois, tapi justru menunjukkan bahwa kita dan sekitar berkomunikasi dengan baik dan saling respect.

Saya sangat concern dengan orang yang sering telat dan selalu ingin ditunggu. Buat saya, bukan cuma waktu yang terbuang sia-sia karena menunggu, tetapi juga bertanya-tanya, bagaimana bisa perasaannya sedatar itu untuk selalu membuat saya menunggu. Apakah itu layak?

Saya mulai merangkum beberapa hal yang bisa saya lakukan untuk mulai menyingkirkan hal-hal yang membuat saya tidak nyaman.

  1. Berani untuk bilang tidak
    Baik alasan yang bisa diterima atau tidak diterima, selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, kenapa engga untuk bilang tidak? Seperti menolak hangout bersama teman dengan alasan ingin me time. Saya sering sekali melakukan ini, karena saya membutuhkan lebih banyak waktu me time dibandingkan teman-teman satu circle lainnya. Tentu dengan tidak melakukan pembatalan yang mendadak seperti h-1 jam (kalo saya pernah melakukan ini maafkan saya).
  2. Berani meninggalkan yang telat
    Seringkali kita membuat janji saat ingin pergi ke suatu tempat, atau hanya sekedar makan siang bareng. Biasanya saya yang jadi orang pertama menunggu. Karena menunggu itu tidak enak, dan mengeluh tidak membuat saya untung. Saya mulai membuat peraturan bagi saya dan teman lain. Isinya adalah kami membuat perjanjian jam ketemu ditambah waktu buffer. Misalnya kami janjian jam 10:00 WIB, buffer sampai 10:20 WIB. Siapapun yang sampai duluan berhak untuk meninggalkan yang telat tanpa harus merasa tidak enak. Poin ini bergantung pada seberapa engga nyaman saya menunggu, kalo harus menunggu berjam-jam karena alasan yang jelas dan saya merasa ok, tidak perlu ada yang ditinggalkan 🙂
  3. Katakan apa yang ingin dikatakan
    Bukan saja berani bilang tidak, tapi kalo ada yang ingin dikatakan lebih dari itu, akan lebih baik untuk kita ungkapkan. Ada banyak hal yang justru disesali karena kita tidak melakukannya dibanding hal yang kita sesali karena pernah melakukannya. (ini masih belajar)
  4. Berani Menolak dihutangi
    Sayang kalo sampai kehilangan teman hanya karena hutang. Tapi kadangkala kita tidak punya ekspektasi kalo teman yang menghutang punya kebiasaan komunikasi yang engga lancar, alhasil kita dibuat bingung karenanya. Yang dihutangi lebih galak dari yang ngutangi, atau drama lainnya soal hutang piutang. Buat saya, selagi teman bisa dipercaya, meminjami uang bukan sebuah masalah. Tapi kalo ingin menolak karena satu dan lain hal, kenapa engga? Kita bisa menyarankan alternatif lain seperti misalnya membuat danus bersama. Kalo sudah toxic, bukan lagi ditolak tapi juga harus dihindari.

Pramoedya Ananta Toer pernah bilang seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran. Saya engga pernah relate dengan kalimat tersebut sampai saya sadar selama ini saya engga adil sama diri sendiri. Selalu mikir untuk kasih cinta ke orang lain padahal cinta ke diri sendiri belum penuh.

Apakah bentuk menghargai diri sendiri versi kamu?

Menghargai Diri Sendiri
Kue anyone?

*Try this keyword :
https://bit.ly/2uQP4K
Q

One thought on “Menghargai Diri Sendiri

  1. Pingback: Random Conv #1 - Mon Journal

Leave a Reply