Midsommar 2019

Midsommar digadang-gadang menjadi the most scariest movie tahun ini. Paling tidak, itu yang diberitakan banyak media termasuk social media untuk film ke-2 Ari Aster. Saya datang ke Flix semalam dengan tiket yang engga murah untuk nonton Midsommar, dengan harapan film ini akan setara atau lebih tinggi dari hereditary. Ini yang saya dapat.

Belajar dari Hereditary, saya menyiapkan amunisi berupa pikiran yang tenang, makan yang cukup, dan sebuah selendang, jaga-jaga seumpama tidak kuat menontonnya. Di dalam bioskop, kursi-kursi tidak terisi penuh. Maklum, film IT sepertinya lebih banyak mengambil perhatian.

Babak pertama Midsommar, masih kental dengan nuansa Hereditary. Terutama saat si tokoh utama menangis dipelukan kekasihnya, mengetahui keluarga yang telah tewas. Pada adegan itu, saya mendengar rintihan yang sama perihnya. Memasuki petualangan menuju Hårga, penonton disuguhi dengan pemandangan-pemandangan indah tanah Swedia. Permainan kamera yang tidak biasa, dan lumayan bikin pusing.

Tapi, rasa deg-degan berhenti setelah adegan ritual jatuh dari jurang terlewati. Sebetulnya, saya optimist ada sesuatu yang lebih besar dan scary dari film ini. Bagaimanapun, itulah yang diharapkan oleh penonton horror dan thriller, disamping cerita yang mungkin tidak dimengerti.

Tapi dugaan saya ini keliru. Kalau mau mencari pengalaman dari seberapa mengerikannya film Midsommar, nonton di bioskop Indonesia belum bisa jadi solusi. Sebab, LSF menyensor banyak adegan mengerikan (yang justru jadi kunci) di film ini. Sementara, meskipun alur terasa jadi lebih cepat karena banyak adegan yang dipangkas, film ini tetap menawarkan cerita intinya yang unik seputar ritual aliran sekte. Oh iya, satu lagi saya salut banget sama scoring music di Midsommer, bukan kaleng-kaleng mengganggunya. Juara.

Jadi pertanyaannya, kalau mau uji nyali nonton full tanpa sensor dimana ya? 🙍

#Recommendation

Leave a Reply