Obstacles Don’t Have to Stop You

“Obstacles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it, go through it, or work around it.”
– Michael Jordan –

Betul katanya, ketidak nyamanan membuat orang berpikir lebih keras. Di tengah situasi yang tidak menentu karena pandemi ini, selain keadaan membuat orang lain memaksa mencari jawaban lewat teori-teori konspirasi, tangan-tangan kita menjadi lebih terampil dalam upaya bertahan hidup.

Ini bukan hanya quarter life crisis bagi orang dewasa berumur 20an seperti saya, tapi juga krisis yang nyata bagi banyak orang. Menurut INDEF (Institute for Development of Economics and Finance), pandemi telah menurunkan tingkat perekonomian dan daya beli masyarakat. Pengeluaran konsumsi rumah tangga yang selama ini ditopang oleh daya beli kelas menengah menurun. Kelas menengah sendiri sebetulnya juga sangat rentan, sebab berbagai kebijakan diikuti dengan mimpi buruk PHK, “dirumahkan” atau dipaksa resign. Menjadi kelas menengah lebih tidak diuntungkan lagi sebab bantuan dari pemerintah bukanlah hak bagi para middle class.

Meski begitu, saya melihat adanya usaha kolektif yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat saat ini. Ini termasuk apa yang sedang saya kerjakan beberapa minggu belakangan. Paling tidak, saya juga melihatnya pada teman-teman yang mulai membuka usaha jual beli secara online atau apapun sebutannya dimana pengiriman dilakukan oleh kurir. Iklim seperti ini, (yang mungkin akan jadi sebuah normal yang baru pada masa mendatang) membuat perputaran uang kian membaik.

Saya dan Ibu beberapa minggu lalu membuka merchant di salah satu aplikasi pesan antar makanan. Ini dilatar belakangi untuk mencari uang tambahan bagi keluarga kami, karena usaha bapak mengalami penurunan pendapatan, sementara rasanya kami tidak ingin menghilangkan tradisi tiap tahun untuk mengirim hantaran pada sanak saudara dan kolega (di masa sulit ini, bisa sedikit berbagi menciptakan kesan-kesan essensial yang begitu dalam). Hasilnya, meski toko kami tidak mendadak laku keras seperti apa yang saya angan-angankan, dalam sehari ada satu dua pesanan yang saya layani. Setiap hari, saya meraba-raba apalagi yang ingin saya jual dan iklankan. Meski idenya dibuat dari kesusahan dan kegelisahan, ternyata berdagang juga menyenangkan, mungkin juga karena saya tidak punya beban. Panjang umur bagi mereka yang berdagang untuk menyambung hidup sehari-hari, Tuhan bersama kita umatnya yang mau berusaha 🙂 .

Dalam sebuah laporan berita terkait kehidupan pasca pandemi, selain membuat orang jadi lebih percaya sains (harusnya) di masa yang akan datang, kita akan lebih aware lagi dalam mengatur keuangan. Ini jadi salah satu hal yang saya petik dalam krisis ini. Pertama, bahwa gaya hidup minimalis sangat penting untuk diterapkan, tidak haus pada belanja barang yang sifatnya impulsif, buku Ikigai/Simplicity akan sangat berguna untuk dipelajari.

Kedua, bahwa menjadi pekerja atau enterpreuner sama-sama berpeluang menelan pil pahit ditengah krisis, satunya ancaman PHK, satunya lagi ancaman bangkrut, maka juga sangat penting untuk menyiapkan tabungan darurat. Ketiga, bahwa mempunyai passive income baik sebagai pendapatan utama maupun pendapatan sampingan diperlukan untuk bekal masa depan. Yang terakhir, bahwa dalam masa sulit sekalipun, manusia dibekali oleh kepekaan terhadap sesama yang tetap perlu dipupuk agar tidak layu, agar bisa sama-sama menghadapi ini, mari jaga itu.

“Things turn out the best for the people who make the best of the way things turn out.”

-John Wooden

#opini

Leave a Reply