Rumah Tumbuh

Suatu hari saya membaca sebuah thread di Twitter, isinya menjelaskan tentang rumah tumbuh. Konsep rumah yang didirikan di atas lahan terbatas dan dibangun dengan cara bertahap. Ini menarik, ide untuk punya rumah sendiri bagi orang-orang dengan budget terbatas bisa dimulai berjenjang, terasa seperti tumbuh bersama rumah tumbuh.

Saya merasa terhubung dengan konsep rumah tumbuh ini. Beberapa bulan yang lalu, Bapak merencanakan membangun rumah dua lantai dari lahan seluas 6×10 meter. Uang ditabungan Bapak tidak sampai 100 juta, tapi Ia tetap nekat memulai membangun konstruksinya. Katanya, lantai dua rumah ini akan dibangun secara bertahap. Sehingga, fokusnya saat ini adalah membangun lantai satu nya terlebih dahulu

Karena budgetnya terbatas, Bapak melibatkan semua anggota keluarga untuk membantu. Sebetulnya, dari kecil saya sudah sering dilibatkan mengerjakan pekerjaan nukang, tapi untuk project yang satu ini keterlibatan saya lumayan banyak. Saya membantu setiap pagi ke toko material membeli bahan-bahan yang dibutuhkan (si cici sampai hapal), memilih keramik lantai dan kamar mandi, mengecat dinding dan kayu, merapikan batas keramik satu dan lainnya dengan semen, juga perintilan-perintilan lain. Sekarang saya banyak tahu nama-nama bahan bangunan hehe.

Saya juga jadi tahu bahwa material paling mahal yang dibutuhkan untuk membangun rumah adalah besi. Karena itu, Bapak sudah mencicil membeli besi jauh jauh hari. Hal kedua yang jadi concern adalah pemilihan tukang. Pemilihan tukang ini sebetulnya juga harus cerdik bagi kita yang budgetnya terbatas. Lantaran setiap client di muka bumi ini selalu ingin dapat 3 pilar berikut : murah, cepat dan bagus. Tapi, kamu tidak bisa dapat ketiganya sekaligus, bisa sih, tapi di alam mimpi.

Saya belum tahu apakah rumah yang sedang kami bangun ini bisa dikatakan rumah tumbuh juga atau bukan (karena ga didesain macem macem). Tapi, saya dapat pelajaran banyak dari sini, dari konsep rumah tumbuh dan dari Bapak. Bapak bilang setelah lantai 1 nya sudah jadi, sebagian akan dikontrakkan sebagian lagi adalah space untuk mendirikan bangunan di lantai dua. Uangnya berasal dari hasil menyewakan kontrakan yang satu itu.

Satu lagi alasan untuk engga hedon, suatu saat saya juga ingin punya rumah tumbuh sendiri. 🙂

#thought

3 thoughts on “Rumah Tumbuh

  1. Keren, appril juga terinspirasi dengan rumah tumbuh, sedang menabung biar bisa punya rumah sendiri dan kos-kosan banyak pintu hehehe. Oia kak untuk rumah berlantai satu jgn lupa di “dak” biar bangun lantai 2 nanti gampang. Namanya rumah tumbuh juga harus bertumbuh bukan hehhee segi finansial emg krusial. Paling mahal juga beton baja kak hehehe…

    • Mantap April aku dukung \m/
      iya sudah di dak dan itu bagian paling menyita uang dan tenaga wkwk, sekarang pengaplikasian dak beton supaya lebih murah bisa disiasati dengan besi wiremessh instead of besi konvensional ya. Wkwk jadi belajar nih

Leave a Reply