Toxic Masculinity

Image
credit : Tum Ulit

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah cerita komik pendek yang digambar oleh Tum Natakorn Ulit berjudul ‘Tear Ballon‘. Ia bercerita lewat ilustrasinya tentang seorang anak lelaki yang patah hati. Anak itu sungguh bersedih tapi tak setetes pun air matanya keluar. Semakin hari kondisinya semakin buruk, air mata yang tak dikeluarkan menumpuk dan menjadi balon di kepalanya. Suatu hari tak lagi Ia mampu membendung semua. Sampai pada satu waktu terpikirkan bahwa sebentar lagi kepalanya akan pecah. Tak sempat itu terjadi, beruntung kucingnya menghibur Ia yang sedang murung, dan air mata bahagia justru tumpah runtuh mengembalikan kepalanya menjadi semula. Di akhir komik, Tum Ulit menuliskan seperti ini “Cry, if you want to“.

Makin hari saya banyak belajar untuk menormalisasi bahwa setiap perasaan manusia lain adalah valid. Tidak dibatasi gender, atau perbedaan lainnya, apalagi dilabeli ini itu. Pelabelan anak lelaki yang menangis selalu dicap sebagai banci adalah kesulitan berpikir yang justru menciptakan budaya toxic masculinity.

Ngomong ngomong soal toxic masculinity tulisan ini saya buat untuk catatan saya sendiri, sekaligus sebagai refleksi diri .

Baru baru ini, seorang teman kaget ketika mengetahui saya menyukai grup idol BTS yang sangat populer di budaya KPOP. Kebetulan saya memposting ulang BTS yang berkolaborasi dengan Jimmy Fallon dan The roots dalam acara BTS week The Tonight Show. Rasa rasanya saya akan bertransformasi menjadi ARMY (sebutan untuk  fans BTS). Saya mulai mengakui bahwa musik yang mereka sajikan begitu mengagumkan, dari mulai irama, penampilan hingga pesan-pesan yang tersirat dalam setiap bait liriknya.

Lalu dalam kekagetan teman saya itu, terselip kata-kata seperti ini “Aliyah, kamu sekarang suka sama cowok menye menye?”. Saya tahu itu sekadar bercanda, kebetulan kami cukup dekat, jadi saya bisa memahami ucapannya. Meski begitu, saya agak tersentak dengan kalimat yang Ia tulis dan bertanya tanya pada diri sendiri.  Mungkin di masa lampau saya sempat bilang seperti itu ke orang lain bahwa saya tidak suka melihat kaum cowok dengan look so called metroseksual. Orang lain beranggapan bahwa saya pernah dan masih menganut hal itu sampai sekarang.

Kenyataannya, seperti seorang wise man pernah bilang, “anda tidak bisa menentukan dengan siapa anda jatuh hati”. Adalah sebuah jawaban untuk kita yang merasa terkotak kotakan. Saya akan mengoreksi kalau kalau saya pernah mendiskreditkan siapapun dari penampilannya. Sebab, perasaan jatuh hati pada orang lain ternyata tidak dapat dikontrol hanya karena cara mereka bergaya tidak sama dengan kita.

Tidak lagi merasa aneh atas orang lain sepertinya dimulai saat seorang co-worker dari jepang datang beberapa tahun silam. Kami merasa asing dengan gaya rambut harajukunya, beberapa teman melabeli Ia sebagai karakter Tsubasa live action. Tapi lambat laun, saya merasa terbiasa. Tidak ada yang berbeda antara saya, teman-teman saya lainnya maupun dia. Ia baik hati, sedikit galak, lucu dan banyak mencari tahu, dan satu lagi dia doyan martabak. Betul, siapa yang tidak suka martabak, bukan? Dan begitu seterusnya impresi yang saya dapat setiap bertemu orang baru, lebih terbiasa dengan perbedaan.

Maskulinitas, saya pikir adalah sesuatu yang bias di era ini. Budaya dan peradaban merupakan hal yang dinamis, sehingga penggambaran maskulinitas yang merujuk pada bentuk tubuh, cara berpakaian, cara bergaya, bagaimana berbicara dan memvalidasi perasaan membuat banyak orang tidak merasa terhubung. Dan sebab stigma soal maskulinitas mendarah daging lewat ruang ruang yang patriarkis menciptakan toksik maskulinitas yang eksis dan memaksa.

Leave a Reply