Triggered by Movie

It feels like, i didn’t watch the movie… but i felt it.

Saya menemukan pengalaman dan ulasan menarik yang dibagikan oleh pengguna twitter saat mereka menonton film Joker 2019. Bagian yang paling saya soroti adalah psychological effect yang ternyata juga turut saya rasakan.

Saya menonton film Joker sendiri, setelah melewati hari yang melelahkan dan kereta yang penuh sesak. Tapi sadar bahwa saya perlu mengatur nafas sebelum masuk bioskop, dan perlu ancang-ancang untuk menonton film ini. Menit-menit pertama, karena Arthur Fleck sudah mulai mengeluarkan ketawa mirisnya di awal film, saya sesekali melihat keberadaan pintu exit. Yang ada dalam pikiran saat itu adalah bagaimana mengatur langkah kalo-kalo harus lari karena tidak sanggup. Beruntungnya, itu tidak sampai terjadi.

Pengalaman menonton Joker bukan satu-satunya yang membuat saya merasa anxious. Setahun yang lalu, saya menonton sebuah film, berjudul “Western”. Bahkan ini bukan film tentang psychology thriller, atau film hantu sekalipun. Tetapi, ada perasaan tidak nyaman dan dada yang terasa sesak sejak film diputar. Mungkin karena sinematografinya dibuat gelap, juga latar tempat yang hanya disitu-situ saja. Ini jadi membangun kecemasan pelan-pelan di diri saya. Kemudian saya beranjak ke toilet untuk menenangkan diri. Setelah tenang, saya balik lagi ke bioskop dan tidak lama menyerah lagi. Saya bilang dengan permohonan maaf ke teman untuk tidak melanjutkan film ini dan bergegas pulang.

Dan lagi, bukan hanya Joker dan Western yang memberikan saya psychological effect setelah menonton film. Yang belum lama ini diputar, Midsommar juga mampu membuat saya menoleh terus ke pintu exit di 30 menit pertama film ini diputar. Tapi ini tidak separah tahun lalu karena memang sudah prepare, saya engga nyerah, saya tonton sampai habis, mungkin saya harus berterima kasih juga sama LSF.

Apa sih yang sebenarnya terjadi oleh saya, dan orang-orang yang harus mengalami anxious dan trembling kaya gitu? Dalam kasus saya, saya punya anxiety disorder yang bisa ketrigger dari beberapa hal termasuk ke-tidak nyamanan. Di film, sinematografi dan scoring music adalah dua hal yang bisa bikin kita cemas. Psychology thriller atau horror terutama, memang sengaja dibuat agar penontonnya merasakan sensasi sensasi seperti itu. Tapi, orang-orang dengan mental issue bisa jadi yang paling rentan. In general, saya merangkum dari situs Quora yang dijawab oleh terapis berlisensi bahwa ada beberapa alasan yang membuat orang ke trigger. Traumatic oleh scene yang sedang dilihat, cemas karena ruangan teater yang gelap, dan mungkin karena terlalu banyak orang dalam satu ruangan.

Apapun alasannya, saya pikir, feeling anxious sewaktu menonton film bisa diminimalisir lewat cara-cara sebagai berikut :

  • Awareness : sadar, kalau punya mental issue, you have to well being prepared. Atau sadar kalo film yang akan ditonton punya efek psychologynya, efek horrornya, atau ketakutan karena filmnya terlalu gore. Jadi kalau kita sudah sadar, kita pasti akan prepared.
  • Breathing : mengatur napas pelan-pelan efektif banget buat bikin kita jadi berpikir lebih jernih.
  • Ada beberapa kasus yang sampai menghasilkan pannick attack, kalau begini, sepertinya akan lebih bijak untuk follow up ke profesional dan menahan diri untuk menonton film-film dengan genre seperti itu.

Leave a Reply