Women to Women

afrah-308214-unsplash
Photo by Afrah on Unsplash

Women to women adalah hubungan paling rumit dibanding hubungan pertemanan antara pria dan pria maupun pria dan wanita.
Disatu sisi kaum hawa dapat menunjukkan eksistensi yang kuat dan deep connection pada lingkup pertemanannya, disisi lain adalah yang paling rapuh, yang paling judgemental, yang paling saling iri, paling saling tidak ikhlas atau saling banding membandingkan.

Seringkali, secara tidak langsung kita menjadi fasis, untuk menyelamatkan golongan sendiri. Seperti pada hal-hal kecil yang sering saya temui dari berbagai percakapan dan adegan adegan di ruang publik.

Seperti setiap kali seorang teman membenarkan temannya saat melakukan kekeliruan hanya karena orang itu temannya sendiri. Ironinya, meski fasis dan terlihat saling kompak, kaum wanita tidak lepas dari membiarkan dirinya membicarakan hal buruk antar sesama wanita. Saya pernah kaget ketika seorang teman sempat mengeluhkan temannya yang lain karena sering meminjam makeupnya, sampai ia harus sembunyi di toilet. Sementara saat bertemu langsung, mereka tampak akrab seolah semuanya baik baik saja.

Kejadian lain yang masih saya ingat beberapa tahun silam, di sebuah angkot di Jakarta, saya bersama teman-teman lain hendak menuju stasiun tanah abang. Teman-teman sedang membicarakan rekan sekantor yang mereka sebut sebagai cabe-cabean. Saya memang tidak asing dengan topik itu sampai saya tiba di satu titik dimana saya betul-betul tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Seorang teman yang dianggap sebagai ibu peri (karena parasnya yang cantik, dan tuturnya yang lembut) melontarkan pandangan sinisnya terhadap subjek obrolan dengan kata-kata yang tidak saya percayai, lalu disambut gelak tawa oleh teman lainnya.

Yang juga rumit adalah soal body image. Coba bertanya bagaimana look kita dimata wanita lain saat sedang ragu. Kita selalu akan dapat jawaban yang menenangkan seperti “kamu sangat cocok memakai rok itu” atau “kamu terlihat cantik” atau misalnya lagi “yang kamu perlu lakukan hanyalah pecaya diri”. Namun disisi lain, tidak jarang kita dihadapkan pada statement yang konyol dan menyinggung. Teman saya pernah datang ke saya dengan merengek sambil mengeluh saat ada jerawat satu di pipinya sebesar biji cabai dan dia amat sangat frustasi, sementara orang dihadapannya sedang jerawatan penuh sebesar biji ketumbar. Contoh lain adalah setiap kali wanita merasa dirinya gendut karena naik 2 kg dan mengeluh sepanjang makan siang, padahal disampingnya ada wanita lain yang jauh lebih besar badannya. Yang pada akhirnya membuat salah satunya menjadi sakit hati.

Fenomena ini menyadarkan saya bahwa hubungan ini berlangsung tanpa kita sadari dan terlanjur dianggap wajar oleh banyaknya stereotip yang beredar. Saya menyadari interaksi ini akan menjadi sangat melelahkan bila kemudian membentuk kami, kaum wanita untuk bersaing dengan sesama wanita yang tidak ada habisnya dan lalu membenci sesama wanita.

Seperti kata lala bohang,
Women to women friendship is the hardest of them all,
it’s accepting but at the same time never feel good enough,
It’s listening but at the same time talking someone’s back

Leave a Reply